Sejarah Ilmu Psikologi
B. Sejarah Ilmu Psikologi
Sejarah ilmu psikologi sejalan dengan perkembangan intelektual yang terjadi di Eropa dan mendapatkan bentuk pragmatisnya di Amerika. Berdasarkan hal itu, bagian sejarah psikologi dibagi dalam beberapa periode beserta tokoh-tokohnya, yaitu:
________________________________________ ________________________________________
Sejarah ilmu psikologi bahkan ilmu pengetahuan yang kita kenal selama ini sebagian besar berpusat dari perkembangan awal sejarah Eropa yang terjadi dari masa Yunani Kuno dan masa Romawi hingga akhir abad 19 yang kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia.
Pendekatan dan orientasi ilmu dalam dunia psikologi berawal dari tradisi filsafat pada masa Yunani Kuno, yaitu masa transisi dari pola pikir animisime ke natural science, yaitu pengetahuan yang bersumber dari alam. Pada masa ini perilaku manusia berusaha diterangkan melalui prinsip-prinsip alam atau prinsip-prinsip yang dianalogikan dengan gejala alam.
Sepanjang masa kekaisaran Romawi, perdebatan mengenai manusia bergeser dari topik kehidupan yang luas, yaitu hubungan antara manusia dengan lingkungannya atau alam ke arah pemahaman tentang kehidupan secara lebih spesifik, yaitu hubungan yang terjadi diantara aspek-aspek di dalam diri manusia itu sendiri.
Masa Renaisans adalah peralihan masa dimana pengetahuan yang bersifat doktrinal di bawah pengaruh gereja berubah ke masa peran nalar. Semangat pencerahan semakin tampak nyata dalam perkembangan science dan filsafat melalui menguatnya peran nalar (reason) dalam segala bidang. Munculnya berbagai diskusi tentang pengetahuan yang menyebabkan perkembangan ilmu-ilmu dan metode ilmiah yang maju dengan pesat. Penekanan pada fakta-fakta yang nyata daripada pemikiran yang abstrak. Hal ini berdampak pada kajian ilmu psikologi sehingga ilmu psikologi ingin menjadi kajian yang ilmiah dan empiris.
Pasca Renaisans, psikologi menjadi bagian dari ilmu faal yang muncul pada abad 19 seiring dengan kemajuan ilmu alam (natural science). Dimana pada fase ini mulai terdapat jawaban yang empiris dan ilmiah dari pertanyaan-pertanyaan yang kerap sekali muncul di masa lalu seperti: Apa itu jiwa (soul)? Bagaimana bentuk konkritnya? Bagaimana mengukurnya? Bagaimana hubungan antara body dan soul? Pada akhirnya pertanyaan-pertanyaan tersebut terjawab dengan adanya kemajuan-kemajuan di bidang fisiologis, yang meliputi riset-riset di bidang aktivitas syaraf, sensasi, dan otak yang memberi dasar empiris dari soul (jiwa) yang juga sebelumnya jiwa tersebut dianggap sangat abstrak.
Pada akhir abad 19, dengan perkembangan natural science dan metode ilmiah secara mapan sebagaimana diuraikan di bagian sebelumnya, maka konteks intelektual Eropa sudah “siap” untuk menerima ilmu psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu yang mandiri dan formal sekaligus terlepas dari ilmu induknya, yaitu filsafat dan kedokteran.
Tanah kelahiran ilmu psikologi adalah Jerman. Oleh karenanya munculnya psikologi tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial Jerman yang memiliki misi membentuk manusia yang berkualitas dan penyedia tenaga kerja yang profesional. Wilhelm Wundt adalah orang pertama yang memproklamirkan psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu dan Wundt seorang doktor yang tertarik dalam bidang fisiologis, dimana fisiologis merupakan jalan bagi psikologi untuk bisa masuk dalam ranah empiris dan ilmiah serta bisa berdiri sebagai ilmu yang mandiri.
Hingga kemudian kajian ilmu psikologi terbentuk dan berkembang dengan munculnya berbagai macam aliran psikologi. Berikut ini adalah perkembangan kajian ilmu psikologi, yaitu
1. Jerman
a. Psikologi Strukturalisme atau psikologi Eksperimen yang menekankan elemen mental, yaitu bahwa mental (jiwa) bisa diempiriskan dengan proses fisiologis
b. Psikologi Gestalt menolak analisis dan penguraian jiwa ke dalam elemen-elemen yang lebih kecil karena dengan perlakuan demikian, maka makna dari jiwa itu sendiri akan berubah sebab bentuk kesatuannya juga akan hilang. Psikologi Gestalt menekankan pada fenomenologis dalam aktifitas mental namun masih tetap empiris
c. Psikoanalisa mengikuti keaktifan mental Gestalt (Freud dengan psikodinamikanya pada level kesadaran dan non kesadaran) namun tidak empiris. Tidak seperti Gestalt dan Strukturalisme, Psikoanalisa berkembang bukan dari riset akademisi, tetapi berdasarkan pengalaman praktek klinis hipnosis dalam menangani pasien histeria.
2. Amerika
a. Psikologi Fungsionalisme menekanan pada fungsi mental tetapi bukan hanya penjabaran elemen-elemen mental (fisiologis) saja
b. Psikologi Behaviorisme menyatakan bahwa jiwa atau proses mental bisa diempiriskan melalui perilaku nyata bukan fisiologis
c. Psikologi Humanistik menyumbangkan arah yang positif dan optimis bagi pengembangan potensi manusia. Psikologi Humanistik disebut juga sebagai yang mengembalikan hakikat psikologi sebagai ilmu tentang manusia.
Sejarah ilmu psikologi sejalan dengan perkembangan intelektual yang terjadi di Eropa dan mendapatkan bentuk pragmatisnya di Amerika. Berdasarkan hal itu, bagian sejarah psikologi dibagi dalam beberapa periode beserta tokoh-tokohnya, yaitu:
________________________________________ ________________________________________
Sejarah ilmu psikologi bahkan ilmu pengetahuan yang kita kenal selama ini sebagian besar berpusat dari perkembangan awal sejarah Eropa yang terjadi dari masa Yunani Kuno dan masa Romawi hingga akhir abad 19 yang kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia.
Pendekatan dan orientasi ilmu dalam dunia psikologi berawal dari tradisi filsafat pada masa Yunani Kuno, yaitu masa transisi dari pola pikir animisime ke natural science, yaitu pengetahuan yang bersumber dari alam. Pada masa ini perilaku manusia berusaha diterangkan melalui prinsip-prinsip alam atau prinsip-prinsip yang dianalogikan dengan gejala alam.
Sepanjang masa kekaisaran Romawi, perdebatan mengenai manusia bergeser dari topik kehidupan yang luas, yaitu hubungan antara manusia dengan lingkungannya atau alam ke arah pemahaman tentang kehidupan secara lebih spesifik, yaitu hubungan yang terjadi diantara aspek-aspek di dalam diri manusia itu sendiri.
Masa Renaisans adalah peralihan masa dimana pengetahuan yang bersifat doktrinal di bawah pengaruh gereja berubah ke masa peran nalar. Semangat pencerahan semakin tampak nyata dalam perkembangan science dan filsafat melalui menguatnya peran nalar (reason) dalam segala bidang. Munculnya berbagai diskusi tentang pengetahuan yang menyebabkan perkembangan ilmu-ilmu dan metode ilmiah yang maju dengan pesat. Penekanan pada fakta-fakta yang nyata daripada pemikiran yang abstrak. Hal ini berdampak pada kajian ilmu psikologi sehingga ilmu psikologi ingin menjadi kajian yang ilmiah dan empiris.
Pasca Renaisans, psikologi menjadi bagian dari ilmu faal yang muncul pada abad 19 seiring dengan kemajuan ilmu alam (natural science). Dimana pada fase ini mulai terdapat jawaban yang empiris dan ilmiah dari pertanyaan-pertanyaan yang kerap sekali muncul di masa lalu seperti: Apa itu jiwa (soul)? Bagaimana bentuk konkritnya? Bagaimana mengukurnya? Bagaimana hubungan antara body dan soul? Pada akhirnya pertanyaan-pertanyaan tersebut terjawab dengan adanya kemajuan-kemajuan di bidang fisiologis, yang meliputi riset-riset di bidang aktivitas syaraf, sensasi, dan otak yang memberi dasar empiris dari soul (jiwa) yang juga sebelumnya jiwa tersebut dianggap sangat abstrak.
Pada akhir abad 19, dengan perkembangan natural science dan metode ilmiah secara mapan sebagaimana diuraikan di bagian sebelumnya, maka konteks intelektual Eropa sudah “siap” untuk menerima ilmu psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu yang mandiri dan formal sekaligus terlepas dari ilmu induknya, yaitu filsafat dan kedokteran.
Tanah kelahiran ilmu psikologi adalah Jerman. Oleh karenanya munculnya psikologi tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial Jerman yang memiliki misi membentuk manusia yang berkualitas dan penyedia tenaga kerja yang profesional. Wilhelm Wundt adalah orang pertama yang memproklamirkan psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu dan Wundt seorang doktor yang tertarik dalam bidang fisiologis, dimana fisiologis merupakan jalan bagi psikologi untuk bisa masuk dalam ranah empiris dan ilmiah serta bisa berdiri sebagai ilmu yang mandiri.
Hingga kemudian kajian ilmu psikologi terbentuk dan berkembang dengan munculnya berbagai macam aliran psikologi. Berikut ini adalah perkembangan kajian ilmu psikologi, yaitu
1. Jerman
a. Psikologi Strukturalisme atau psikologi Eksperimen yang menekankan elemen mental, yaitu bahwa mental (jiwa) bisa diempiriskan dengan proses fisiologis
b. Psikologi Gestalt menolak analisis dan penguraian jiwa ke dalam elemen-elemen yang lebih kecil karena dengan perlakuan demikian, maka makna dari jiwa itu sendiri akan berubah sebab bentuk kesatuannya juga akan hilang. Psikologi Gestalt menekankan pada fenomenologis dalam aktifitas mental namun masih tetap empiris
c. Psikoanalisa mengikuti keaktifan mental Gestalt (Freud dengan psikodinamikanya pada level kesadaran dan non kesadaran) namun tidak empiris. Tidak seperti Gestalt dan Strukturalisme, Psikoanalisa berkembang bukan dari riset akademisi, tetapi berdasarkan pengalaman praktek klinis hipnosis dalam menangani pasien histeria.
2. Amerika
a. Psikologi Fungsionalisme menekanan pada fungsi mental tetapi bukan hanya penjabaran elemen-elemen mental (fisiologis) saja
b. Psikologi Behaviorisme menyatakan bahwa jiwa atau proses mental bisa diempiriskan melalui perilaku nyata bukan fisiologis
c. Psikologi Humanistik menyumbangkan arah yang positif dan optimis bagi pengembangan potensi manusia. Psikologi Humanistik disebut juga sebagai yang mengembalikan hakikat psikologi sebagai ilmu tentang manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar